Jumat, 16 September 2016

Cerita Kecil


                             Kisah Anak Pinggir Selokan
Diatas jembatan kecil ia duduk dan berbicara pada air sungai tentang ceritanya. Dan kisah ini bukanlah kisah tentang anak yang tampan dan kaya yang selalu berakhir bahagia. Tapi hanya kisah anak kecil kusam yang tinggal dirumah 3×6 m dipinggir selokan kotor, yang hari - harinya hanya dihabiskan untuk memikirkan nasib keluarganya. Gery ialah nama anak itu, anak miskin yang hidup di pinggiran kota Bandung. Banyak anak yang tak ingin bermain dengannya hanya karena status sosialnya yang miskin. Tapi mungkin Ia adalah yang terhebat diantara sahabatku. Bayangkan saja dengan semangatnya, ia bisa berlari sejauh 1 km dalam waktu 8 menit untuk pergi kesekolahnya. Dan mungkin Ia yang paling kuat diantara semua orang yang pernah kutemui. Saat berusia 10 tahun, Ia kehilangan ayahnya karena penyakit jantung, Ibunya yang hanya penjahit baju hanya dapat membelikannya buku bekas dari pedagang rongsok yang lewat di depan rumahnya. Dari semua buku yang dibeli Ibunya, Ia hanya membawa dua buku saja untuk belajar di sekolahnya, yang satu Ia pakai untuk tugas dan yang satunya Ia pakai untuk catatan. Walaupun Ia tak pernah meraih rangking 1, tapi hebatnya Ia selalu menjadi orang yang terpintar di kelasku hanya karena daya kreativitasnya yang tinggi, bayangkan saja Ia dapat membuat rumah - rumahan dari sampah makanan menjadi mainan seharga 50.000 yang Ia pakai untuk membeli makanan kecil untuk keluarga bahagianya walaupun hanya sehari. Mungkin di balik kehilangan Ayahnya tersayang, Ia selalu menjadikan senyum bahagia Ibunya sebagai obat penenang untuk dirinya. Itulah kisah pertama, anak bernama Gery yang tidak pernah menyerah untuk membahagiakan Ibunya walaupun seberapa besar masalah yang menghalanginya.
"Mungkin kau tidak tahu rumahku itu ibarat toko kue, ada sesuatu yang spesial disana! Wajahnya lembut seperti bolu kukus, senyumnya manis seperti brownies dengan bubuhan ceres diatasnya, tangan dan pelukannya sehangat coklat panas di musim salju diatas langit tokyo, dan itulah Ibuku"
Gery 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar